Rabu, 02 April 2008
Teknologi: instrumentum atau locus kekuasaan?
Dalam catatan sejarah pemikiran, soal-soal substansial semacam ini pernah diperdebatkan antara Habermas dan Gadamer. Maka perkenankan itu saya sampaikan sebagai finale dari tulisan singkat ini. Sejauh saya pahami, debat klasikal antara Habermas dan Gadamer berpusat pada status dari klaim epistemik dan normatif untuk menemukan dan memahami makna dalam disiplin sosial maupun individu-manusia.Gadamer, seorang master hermeneutik (seni menterjemahkan untuk menemukan makna) menekankan bahwa ada ‘otoritas’ yang darinya semua pemahaman berasal dan ‘tradisi’ yang bukan hasil refleksi melainkan konteks historis, yang menjadi sumber untuk menemukan dan memahami arti yang bermakna (meaningful meanings). Bagi Gadamer, teknologi modern dan segala rasionalitas yang mendasarinya bersekongkol untuk mengingkari hidup praktikal manusia dan pemahaman manusia – persisnya, daya yang meremukkan yang dipunyai teknologilah yang menyebabkan ini terjadi. Namun, kita mungkin perlu memahami Gadamer sebagai satu dari pilar Sekolah Frankfurt generasi pertama, yang (seperti Herbert Marcuse, Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer) mempunyai kecurigaan kuat terhadap teknologi.Waspada terhadap persoalan tentang otoritas dan konteks tradisi tersebut, Habermas, generasi kedua dari Sekolah Frankfurt, amat peduli pada upaya memastikan kemungkinan untuk menjaga (maintain) dan memberi alasan (justify) perspektif kritis terhadap tradisi dan otoritas. Jika Gadamer mengkritik teknologi karena teknologi merusak otoritas dan konteks tradisional dari makna, Habermas mengkritiknya karena teknologi itu sendiri sudah berubah menjadi otoritas. Menurut Habermas, ilmu dan teknologi telah mengesahkan dirinya sendiri (self-legitimising) sedemikian rupa sehingga pertanyaan praktis dikalahkan (dan bahkan diganti) oleh pertanyaan teknis, yaitu pertanyaan mengenai cara mencapai tujuan yang paling efisien, dimana tujuan itu sendiri ada diluar kontrol reflektif kita. Habermas mengajukan Theory of Communicative Action (1985) untuk mengobati diagnosis suram yang didukung oleh para pemikir Sekolah Frankfurt generasi pertama seperti Gadamer. Habermas hendak menyelamatkan remuknya ‘lebenwelt’ (lifeworld, kehidupan) dengan menemukan jalan untuk menjaganya dari pelanggaran imperatif instrumental – sebuah ruang untuk konsensus yang otonom, rasional dan secara komunikatif tentang hal-hal dalam hidup praktis. Dan teknologi, dimana kinerjanya mengikuti rasionalitas instumental, menjadi gangguan bagi lahir-kembalinya lifeworld – karena ia sebenarnya hanyalah alat namun kini ia berubah menjadi otoritas.Karena sifat otoritatif itu, bagaimana soal akuntabilitas harus dipahami ketika teknologi ‘kawin-mengawin’ dengan kepentingan bisnis? Implikasi etisnya jelas akan kena pada ‘pengetahuan’ (‘knowledge’) dan pasar (‘the market’). Namun seringkali kita tidak sadar bahwa soal-soal kekuasaan rapi bersembunyi dalam pengetahuan teknologis/teknis. Lalu, sementara kita juga tahu kekuasaan itu sendiri netral (walau ia sering disalahgunakan), kita perlu pelan-pelan mulai melihat teknologi sebagai instrumen, sekaligus tempat berlangsungnya praktik kekuasaan. ’Netralitas’ teknologi hanya berlaku jika teknologi dipisahkan dari mereka yang mengembangkan dan menggunakannya (exercising agents) – yang jelas tidak mungkin.Maka, jika kekuasaan bisnis di jaman ini makin menjadi otoritas yang melegitimasi berbagai praktik ekonomi-politik neoliberal, jelas kiranya mengapa membuat dan mendesakkan praktik teknologi agar akuntabel di depan publik menjadi makin penting. Karena kalau tidak, ia hanya akan merawat neoliberalisme ini. Artinya, sementara pundi-pundi laba terus menggelembung karena dan sekaligus demi perkembangan teknologi, dunia makin tidak dipedulikan, orang miskin makin tersingkir, kesenjangan makin lebar dan lingkungan makin rusak.Akhirnya, mungkin seperti yang dikhawatirkan Davenport (1990) yang dikutip di awal tulisan ini, kita tidak tahu lagi batas itu. Teknologi tidak lagi ada untuk manusia, melainkan manusia sudah menghambakan dirinya untuk teknologi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar